Khazanah Islam

Santri Boyong, Kekayaan Menjadi Ukuran? Antara Harapan Masyarakat dan Hakikat Berkah?

almumedia.com · · Diterbitkan 02:57 · 3 menit membaca
Ukuran Teks:

“Semoga ilmu yang diperoleh menjadi berkah.” Doa seperti inilah yang hampir selalu mengiringi kepulangan seorang santri dari pesantren. Kalimat tersebut begitu akrab di telinga dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, pernahkah kita benar-benar merenungkan apa yang dimaksud dengan berkah itu sendiri?

Di sisi lain, tidak sedikit masyarakat yang menganggap bahwa keberkahan seorang santri dapat dilihat dari kehidupan setelah ia boyong. Ketika hidupnya mapan, usahanya berkembang, rumahnya megah, dan hartanya melimpah, ia dinilai sebagai santri yang ilmunya benar-benar membawa berkah. Sebaliknya, ketika kenyataan tidak seindah harapan, muncul anggapan bahwa keberkahan itu belum ia peroleh.

Lantas, benarkah kekayaan dapat dijadikan ukuran keberkahan? Ataukah selama ini kita lebih sering mengukur berkah dengan standar keberhasilan dunia, bukan sebagaimana hakikat berkah yang diajarkan dalam Islam?

Apa itu Barokah Menurut Ulama’?

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan bahwa hakikat berkah adalah banyaknya kebaikan serta keberlangsungan manfaat yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya. Senada dengan itu, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani, menjelaskan bahwa berkah adalah :

  البركة : ثبوت الخير الإلهي في الشيء

“Barokah adalah tetapnya kebaikan ilahi dalam sesuatu.”
(Ar-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradat, bab ba-ra-ka)

Pemahaman ini menunjukkan bahwa ukuran berkah tidak selalu identik dengan melimpahnya harta atau tingginya kedudukan. Sebab, bisa jadi seseorang memiliki harta yang banyak tetapi hidupnya jauh dari ketenangan. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana, namun ilmunya bermanfaat, keluarganya tenteram, waktunya produktif, dan amalnya terus mengalir. Inilah salah satu gambaran keberkahan yang diajarkan dalam Islam.

Nah… ini nih yang menarik “Apakah Barokah Identik Dengan Kekayaan?

 

Hakikat tersebut juga ditegaskan dalam firman Allah Swt (QS. Al-A’raf [7]: 96) :

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.”

ini menunjukkan bahwa keberkahan merupakan karunia Allah yang erat kaitannya dengan keimanan dan ketakwaan. Dengan demikian, berkah tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi dari hadirnya kebaikan, ketenangan, serta manfaat yang Allah limpahkan dalam kehidupan seseorang.

jika barokah terus diukur dengan seberapa banyak harta, niscaya Fir’aun dan Qanun adalah manusia paling barokah. Namun, mereka justru ikon laknat. Allah berfirman :

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

“Apabila manusia diuji Tuhannya dengan dimuliakan dan diberi kesenangan, ia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’”
(QS. Al-Fajr: 15)

Kekayaan bisa jadi ujian, bukan barokah. Kadang Allah menambah harta bukan karena ridha, tapi karena sedang menguji kesyukuran. Sebaliknya, Allah menahan sebagian rezeki bukan karena murka, tapi karena sedang menjaga kita agar tidak lupa diri.

Santri Berkah Itu Siapa?

Santri yang berkah bukan yang boyongnya membawa mobil, tapi yang pulang membawa akhlak. Bukan yang sibuk membangun ruko, tapi yang terus membangun doa untuk gurunya. Bukan yang dikenal di dunia usaha, tapi yang dikenali para malaikat karena ilmunya memberi manfaat.

Barokah bukan berarti makin kaya, tapi makin baik. Bukan tentang banyaknya pundi-pundi uang, tapi luasnya manfaat di kehidupan.

Barokah itu ketika:

  • Rezekimu sedikit tapi selalu cukup.
  • Waktumu sempit tapi terasa lapang.
  • Ilmumu sederhana tapi menghidupkan hati banyak orang.

Kesimpulan

Pada akhirnya, berkah santri bukan diukur dari jabatan, usaha, atau harta, tapi dari hati yang taat, ilmu yang diamalkan, akhlak yang baik, dan manfaat bagi orang lain.

Saat boyong, santri tak perlu minder meski materi belum banyak, karena berkah itu bukan tanpa ujian, tapi ketenangan, kemudahan taat, dan kebaikan yang terus bertambah.

“Mungkin dunia tidak selalu memandangnya sebagai orang yang paling berhasil. Namun, jika ilmunya menjadi cahaya bagi orang lain bukankah itu keberhasilan yang sesungguhnya?”

Wallāhu a‘lam.

Tinggalkan komentar