cerpen

KAYU PENGHALANG JALAN

almumedia.com · · Diperbarui 22:09 · 3 menit membaca
Foto: AI
Ukuran Teks:

KAYU PENGHALANG JALAN

Pagi itu langit tampak cerah. Seorang pemuda mengendarai sepeda motornya menuju sekolah. Jalan yang dilaluinya cukup ramai, tetapi perjalanan pagi itu terasa seperti biasa.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia melihat sebatang kayu besar yang roboh dan melintang di pinggir jalan. Pemuda itu menghentikan motornya sejenak.

“Yah, malah menghalangi jalan,” gumamnya dengan nada meremehkan.

Tanpa berpikir panjang, ia memilih melewati sisi jalan yang masih bisa dilalui. Ia pun kembali melaju, meninggalkan batang kayu itu tanpa melakukan apa-apa.

Sesampainya di sekolah, pemuda itu memarkirkan sepeda motornya di area parkir. Ia menyimpan helm, merapikan seragamnya, kemudian bergegas menuju kelas.

Di dalam kelas, beberapa siswa dan siswi sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Pemuda itu pun duduk di bangkunya dan bersiap mengikuti pelajaran.

Tak lama kemudian, guru memasuki kelas dengan membawa buku pelajaran. Pelajaran pun dimulai. Suasana kelas berjalan seperti biasa hingga bel pulang berbunyi.

Guru kemudian meninggalkan kelas. Para siswa mulai membereskan buku dan perlengkapan mereka.

Tak lama berselang, terdengar suara notifikasi dari ponsel salah seorang siswa.

“Ting!”

Pemuda itu melirik ke arah sumber suara. Sebuah berita baru saja masuk. Ia terkejut ketika membaca berita tersebut.

Terjadi kecelakaan di jalan yang pagi tadi dilaluinya.

Lebih mengejutkan lagi, kecelakaan itu terjadi tepat di sekitar lokasi tempat batang kayu besar yang ia lihat sebelumnya.

“Eh, kamu sudah lihat beritanya?” tanya seorang siswa yang duduk di sampingnya.

Pemuda itu hanya mengangguk. Wajahnya mulai berubah. Ia teringat pada batang kayu yang tadi pagi dilihatnya.

“Andai saja aku melewati jalan itu tadi pagi,” ujar siswa di sampingnya, “pasti akan kupinggirkan kayu roboh itu agar tidak membahayakan orang lain.”

Ia kemudian melanjutkan, “Selain bisa menyelamatkan nyawa orang lain, menolong sesama juga merupakan bentuk kebaikan yang insyaallah bernilai di akhirat.”

Kata-kata itu membuat pemuda tersebut terdiam. Hatinya dipenuhi rasa bersalah. Ia membayangkan, seandainya tadi pagi ia mau berhenti dan menyingkirkan batang kayu tersebut, mungkin kejadian itu bisa dicegah.

Tanpa banyak berpikir, ia segera berlari menuju parkiran. Ia mengambil sepeda motornya dan langsung menuju tempat batang kayu itu roboh.

Sesampainya di sana, ia melihat keadaan di sekitar lokasi. Suasana masih ramai. Ia hanya bisa terdiam dan menyesali sikapnya.

Dalam hati, ia berkata, “Seandainya tadi pagi aku tidak menganggap remeh batang kayu itu…”

Kini ia menyadari bahwa sesuatu yang terlihat kecil dan sepele bisa saja memiliki akibat yang besar bagi orang lain.

Sejak saat itu, ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi mengabaikan sesuatu yang dapat membahayakan orang lain. Ia juga bertekad untuk lebih peduli terhadap keadaan di sekitarnya.

Hikmah

Kebaikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan, membantu orang yang membutuhkan, atau sekadar peduli terhadap keadaan di sekitar kita dapat menjadi sebuah kebaikan yang berarti.

Karena itu, jangan menunda-nunda untuk melakukan kebaikan. Jangan pula menganggap remeh hal-hal kecil. Bisa jadi, sesuatu yang kita anggap sepele justru dapat menyelamatkan orang lain dari bahaya.

Pedulilah terhadap lingkungan dan sesama. Sebab, kebaikan yang sederhana sekalipun dapat memberikan manfaat yang besar.

Penulis : Silvia Azzahra 10d

Tinggalkan komentar