Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Sejarah Singkat Pondok Pesantren Al-Mubarok Miftahul Ulum [Bagian 1]

Aula dan Asrama Putra

Pendiri Pondok Pesantren Al-Mubarok Miftahul Ulum

Assalamualaikum, Sahabat Almu Media!

Pondok Pesantren Al Mubarok Miftahul Ulum didirikan oleh seorang ulama’ berdarah sholeh keturunan makam keramat KH. Ahmad Shodiq, makam yang diyakini penduduk setempat memiliki karomah mulia. Beliau adalah KH. Ahmad Jazuli Abdul Mannan. Ayahanda beliau bernama H. Abd. Mannan putra dari pasangan Bapak H. Sennah dan Ibu Hj.  Adrima binti KH. Achmad Shodiq. Sedangkan ibundanya Bernama Hj. Fatimah (Satemma).

Diminta Seorang Kyai Untuk Menjadi Tanaga Pengajar

Dikala beliau masih aktif di Pondok Pesantren Al-Mubarok Lanbulan tepatnya di Batorasang Tambelangan Sampang Madura, KH. Nawawi Suyuthi (pendiri Pon-Pes Nurus Syamsi Wal Qomar Desa Sui. Malaya Kab. Kubu Raya) meminta beliau untuk membantu di pesantrennya. Dengan harapan beliau bisa meneruskan dan menggantikan posisinya di Sui. Malaya. Maka tanpa berfikir panjang KH. Nawawi Suyuthi pun langsung bergegas mengunjungi ayah dari KH. Ahmad Jazuli, yakni H. Abd. Mannan. Tujuan pertemuan ini tiada Iain hanya dalam rangka silaturrahmi sekaligus membicarakan permintaan dan permohonan beliau. Akhirnya H. Abdul Mannan menyetujui permintaan KH. Nawawi Suyuthi. Kini H. Abd. Mannan harus menanggung amanah yang disepakati. Maka mau tidak mau beliau harus membicarakan permintaan KH. Nawawi Suyuthi ini kepada putranya Kiyai Ahmad Jazuli yang masih ada di Pesantren Lanbulan.

Setelah mendapat penjelasan dari ayahandanya terkait permintaan KH. Nawawi Suyuthi, Kiyai Ahmad Jazuli tidak bisa memberi jawaban secara terburu-buru. Karena Pada hakikatnya hati beliau telah jatuh cinta pada tanah kelahirannya. Namun sebagai orang berilmu, beliau paham bahwa beliau harus memberikan jawaban yang dingin di hati pendengarnya.

Jawaban KH. Ahmad Jazuli

Setelah sekian waktu berlalu dan KH. Ahmad Jazuli sudah kembali ke Pontianak, beliau pun soan kepada KH. Nawawi Suyuthi. Akhirnya, beliau menolak permintaan KH. Nawawi Suyuthi ini dengan jawaban yang dingin dan mudah diterima oleh KH. Nawawi Suyuthi. “Engki mon latemar terak tak hajet epaterak pole Kiyaeh, tingkel kauleh matera’ah kampong kauleh tibi’ saos. Kebetulen eka’dissah ki’ petteng” (Jika sudah bercahaya tentu tidak perlu lagi diberi cahaya Kyai, biarlah saya berikan cahaya di kampung saya sendiri saja, kebetulan di sana masih gelap).

Sahabat Almu Media! Demikian sekelumit Sejarah Singkat Pondok Pesantren Al-Mubarok Miftahul Ulum yang dapat kami bagikan. Semoga artikel ini bermanfaat dan sampai jumpa kembali di artikel menarik lainnya. Wassalamualaikum!

Bersambung…

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *