Malaikat Izrail dan Takdir Kematian
Kisah ini diambil dari kitab Majalisus Saniyah, yang menceritakan tentang seorang sahabat Nabi Sulaiman a.s. Sebut saja namanya Fulan. Kisah ini memberikan pelajaran berharga tentang kematian dan takdir Allah Swt. yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun.
Pada suatu hari, Nabi Sulaiman a.s. sedang berkumpul bersama para sahabatnya. Di tengah perkumpulan tersebut, datanglah seorang lelaki. Lelaki itu memandang Fulan dengan tatapan yang tajam dan cukup lama. Setelah beberapa saat, ia pun pergi meninggalkan perkumpulan Nabi Sulaiman a.s.
Fulan merasa penasaran dan kemudian bertanya kepada Nabi Sulaiman a.s.,
Fulan: “Wahai Nabi Allah, siapakah lelaki yang tadi datang dan memandangiku dengan tatapan seperti itu?”
Nabi Sulaiman a.s.: “Dia adalah Malaikat Maut, yaitu Izrail.”
Mendengar jawaban tersebut, Fulan menjadi sangat ketakutan. Ia merasa bahwa Malaikat Maut datang untuk mencabut nyawanya.
Fulan: “Wahai Nabi Allah, tadi aku memandangnya cukup lama, begitu pula sebaliknya. Aku sangat takut jika kedatangannya adalah untuk mencabut nyawaku. Wahai Nabi Allah, selamatkanlah aku dari Malaikat Maut.”
Nabi Sulaiman a.s.: “Bagaimana mungkin aku dapat menyelamatkanmu?”
Fulan: “Perintahkanlah anginmu untuk membawaku ke negeri Hindia. Dengan begitu, mungkin Malaikat Maut tidak akan menemukanku di sini.”
Nabi Sulaiman a.s. kemudian memerintahkan angin agar membawa Fulan ke negeri Hindia. Dalam waktu yang singkat, angin pun membawa Fulan hingga sampai ke tempat yang dituju.
Namun, ketika Fulan turun dari angin, ia justru bertemu dengan Malaikat Maut. Saat itulah Malaikat Maut mencabut nyawanya. Setelah menunaikan tugasnya, Malaikat Maut kemudian pergi dan kembali menemui Nabi Sulaiman a.s.
Malaikat Maut: “Wahai Nabi Allah, aku merasa heran dengan Fulan. Sebelumnya, Allah Swt. telah memerintahkanku untuk mencabut nyawanya di negeri Hindia. Ketika aku melihatnya berada di perkumpulanmu, aku merasa heran bagaimana mungkin ia akan sampai ke negeri Hindia.
Aku kemudian pergi ke negeri Hindia untuk menunggunya. Tidak lama kemudian, datanglah angin yang membawa Fulan ke tempat tersebut. Ketika ia turun dari angin, aku pun segera mencabut nyawanya, sebagaimana yang telah ditakdirkan oleh Allah Swt.”
Sumber : kitab Majalisus Saniyyah hal 19 Penggarang Imam Ahmad bin Syaikh Hijazi Al-Fasyani
Hikmah dari Kisah
Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kematian merupakan ketetapan Allah Swt. yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Sejauh apa pun seseorang berusaha melarikan diri, apabila waktu kematiannya telah tiba, ia tidak akan mampu menghindarinya.
Allah Swt. berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ
Artinya:
“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.”
(QS. An-Nisa’: 78)
Oleh karena itu, selama masih diberikan kesempatan hidup, hendaknya kita memperbanyak amal kebaikan dan segera bertaubat kepada Allah Swt. Jangan sampai kita menunda-nunda taubat dengan mengira bahwa masih ada waktu yang panjang, karena tidak seorang pun mengetahui kapan ajalnya akan tiba.
Kematian tidak mengenal tempat dan tidak menunggu kesiapan seseorang. Ketika waktunya telah tiba, tidak ada seorang pun yang mampu menundanya. Maka, marilah kita mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal saleh dan bertaubat kepada Allah Swt. sebelum nyawa berpisah dari jasad.
penulis : Malyka Tiara Marly kls 10c
Wih…🔥mantap narasi nya kena banget terus berkarya anak muda
Wih mantap anak muda terus berkarya
Narasinya bagus banget🔥🔥🔥