Dikisahkan dalam kitab al-Jauharul Farid syarah al-Manhaj as-Sadid – الجوهر الفريد شرخ عاى المنهج السديد halaman 177–179 tentang seorang pemuda yang dikenal cerdas. Namun, kecerdasannya mulai membuatnya tergoda oleh rayuan setan. Ia menjadi sangat sombong dan merasa dirinya adalah orang yang paling cerdas.
Pada suatu ketika, keluarga pemuda tersebut berinisiatif menghadirkan seorang alim untuk menjawab tiga pertanyaan yang selama ini menjadi kebanggaan sang pemuda. Singkat cerita, pemuda tersebut kemudian dipertemukan dengan orang alim itu.
Terjadilah percakapan antara keduanya. Setiap pertanyaan dan jawaban yang disampaikan membuat suasana semakin serius.
Pemuda: “Siapa Anda? Apakah Anda yakin dapat menjawab tiga pertanyaan dari saya?”
Orang Alim: “Saya adalah hamba Allah dan saya yakin dapat menjawab tiga pertanyaan dari Anda, dengan izin Allah.”
Pemuda: “Apakah Anda dapat dipercaya dalam memberikan jawaban? Bahkan banyak ulama yang tidak mampu menjawab pertanyaan saya.”
Orang Alim: “Saya akan menjawab sebisa saya, dengan kehendak dan pertolongan Allah.”
Kemudian sang pemuda menyampaikan tiga pertanyaannya.
Pemuda: “Ada tiga pertanyaan dari saya. Pertama, apakah benar Allah itu ada? Jika benar ada, perlihatkanlah kepada saya. Kedua, apa itu qadha dan qadar? Ketiga, jika setan diciptakan dari api, mengapa ia merasa sakit ketika disiksa dengan api pula?”
Tanpa banyak bicara, orang alim tersebut menampar wajah sang pemuda dengan cukup keras hingga pemuda itu merasakan sakit.
Pemuda itu: “Mengapa kau menamparku? Apakah kau marah padaku?”
Orang Alim: “Saya tidak marah. Tamparan tadi adalah jawaban dari pertanyaan Anda.”
Pemuda: “Saya tidak paham. Apakah Anda bisa menjelaskan maksud dari jawaban tersebut?”
Orang Alim: “Apa yang Anda rasakan setelah saya tampar?”
Pemuda: “Saya merasakan sakit yang amat perih di wajah saya.”
Orang Alim: “Apakah Anda yakin bahwa rasa sakit itu ada?”
Pemuda itu: “Ya.”
Orang Alim: “Kalau begitu, perlihatkan kepada saya bagaimana bentuk rasa sakit itu.”
Pemuda: “Saya tidak bisa memperlihatkannya.”
Orang Alim: “Itulah jawaban dari pertanyaan pertama. Kita harus yakin bahwa Allah itu ada, meskipun kita tidak dapat melihat-Nya.”
Kemudian orang alim melanjutkan:
Orang Alim: “Sebelum saya menampar Anda, apakah Anda mengetahui bahwa saya akan menampar Anda?”
Pemuda: “Tidak.”
Orang Alim: “Apakah sebelumnya Anda merasa bahwa saya akan menampar Anda pada suatu saat?”
Pemuda: “Tidak.”
Orang Alim: “Itulah yang dimaksud dengan qadha dan qadar. Ini adalah jawaban saya untuk pertanyaan Anda yang kedua.”
Kemudian orang alim melanjutkan pertanyaan untuk menjawab pertanyaan ketiga.
Orang Alim: “Apakah Anda tahu tangan saya yang menampar Anda ini terbuat dari apa?”
Pemuda: “Dari mani seorang laki-laki dan seorang perempuan.”
Orang Alim: “Lalu, apa yang Anda rasakan setelah saya tampar?”
Pemuda: “Saya merasakan sakit yang amat perih.”
Orang Alim: “Jika Anda yang diciptakan dari mani saja dapat merasakan sakit karena tamparan tangan saya yang juga berasal dari unsur yang sama, maka demikian pula dengan setan. Meskipun setan diciptakan dari api, bukan berarti api tidak dapat menjadi sesuatu yang menyakitkan baginya.”
Seketika pemuda tersebut terkejut karena orang alim itu mampu menjawab ketiga pertanyaannya. Ia pun tertunduk malu karena selama ini telah bersikap sombong dengan kepintaran yang dimilikinya.
karya syarah كلهما الفقير أحمد غزالى محمد فتح الله أفا الله عنه ولطف به آمين
Kisah-Kisah Kebijaksanaan
Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa kesombongan bukanlah sifat yang pantas dimiliki manusia. Ketika manusia mulai merasa paling pintar, paling tinggi, dan paling hebat, ia dapat melupakan Tuhan yang telah menciptakannya.
Sesungguhnya, sebesar apa pun ilmu dan kepandaian yang dimiliki seseorang, masih banyak orang lain yang memiliki ilmu dan kelebihan yang tidak kita miliki. Karena itu, ilmu seharusnya menjadikan seseorang semakin rendah hati, bukan semakin sombong.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar senantiasa menjaga hati, menjauhi kesombongan, dan selalu menyadari bahwa segala ilmu dan kepandaian yang kita miliki pada hakikatnya adalah karunia dari Allah Swt.
penulis : alviatuzzahro kelas 10c
Luar biasa tulisan anak muda, semangat terus untuk menulisnya